Langsung ke konten utama
dokumen pribadi

Oleh Bapak Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang
Beberapa waktu lalu bapak Nurudin menjadi narasumber dalam kuliah umum di kampus saya yang bertema “Tuhan Baru Masyarakat Cyber”. Berikut penjelasan mengenai dampak dari media sosial oleh beliau.


source : pixabay.com
a. Nomophobia
Seseorang lebih senang ketinggalan dompet daripada smartphone. Tentu kita sering menemui orang-orang yang semacam ini, karena merasa bahwa ia lebih membutuhkan smarphonenya yang memiliki berbagai macam fitur dan akses informasi. Juga sering kita temui orang yang langsung kebingungan dan kelabakan ketika ketinggalan smartphone.

b. Alone together
Turkle dalam bukunya Alone Together: Why we expect more from technology and less from the other. Sering kita temui, mereka yang duduk bersama-sama dengan kelompok sosialnya secara fisik terlihat menjadi satu, namun acuh dan hampa dengan aktivitas di sekitarnya karena terlalu asyik dengan gadget nya.

c. Bermain Topeng
Media sosial terkadang berisi pengguna yang memiliki banyak “topeng” atau memiliki latarbelakang yang berbeda dengan apa yang ia posting di media sosialnya dan bahkan pintar untuk menyembunyikan kekurangannya.

d. Budaya Narsisme
source : pixabay.com
Narcissos juga disebut Narcissusi adalah orang yang lebih mencintai bayangannya sendiri di kolam. Bapak Nurudin menyebutkan beberapa indikator orang yang narsis:
1) Mencintai diri sendiri berlebihan
2) Sulit menerima cinta orang lain
3) Susah merasakan perasaan orang lain
4) Suka mendengar pendapatnya sendiri
5) Melihat lingkungan sekitar dari sudut pandangnya sendiri
6) Sulit mempercayai orang lain
e. Budaya komentar
“I share, therefore I am” (Saya berbagi, maka saya ada). Dimedia sosial kita akan menemui kolom komentar, dimana begitu banyak orang yang berkomentar apa saja yang mereka inginkan. Hal ini karena ada rasa untuk eksistensi diri dengan budaya komentar, sesuai dengan ungkapan tadi “saya berbagi, maka saya ada”.

f. Privacy terganggu
bagaimanapun cara kita menjaga privasi, tentu pasti masih ada celah bagi orang lain melihat diri ita, karena media sosial itu adalah barang publik.

source : pixabay.com
g. Miskinnya tatap muka
Seseorang masuk ke dunia maya adalah ketidakmampuan mereka untuk berkomunikasi tatap muka  dengan orang lain (Sherry Turkle), sehingga ia merasa  melalui media sosial lah ia dapat berkomunikasi, atau disebut budaya pelarian (eskapisme).

h. Munculnya cyber crime
Sudah cukup banyak kita temui cyber crime yang terjadi dimedia sosial maupun yang dilakukan melalui media sosial. Tetaplah berwaspada menggunakannya.


Terimakasih bapak Nurudin sudah mau berbagi ilmunya dengan kami, semoga juga teman-teman yang membaca dapat bertambah ilmunya terkait media sosial dan jangan lupa tetap belajar untuk bijak menggunakan media sosial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penjual Pencok dan Smartphonenya

Beberapa hari belakangan ini saya dan teman-teman kelompok pergi ke beberapa tempat di sekitar kampus untuk mencari responden yang akan diwawancarai sehubungan adanya tugas final test mata kuliah New Media semester 4 kuliah saya ini. Mari saya perkenalkan tujuh orang anggota yaitu Yulia, Ira, Arifah, Lley, Sherly, Winda, dan tentu saya sendiri. Kebetulan pada hari minggu saya dan Winda sedang free, kami berencana untuk mencicil tugas wawancara. Kami diberi tugas untuk mewawancara 5 elemen masyarakat yang berbeda yaitu ibu rumah tangga, pelajar, pedagang asongan, karyawan/pegawai, dan guru/dosen.  Topic wawancara adalah seputar pengetahuan mereka tentang TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) serta media sosial. Setelah wawancara tersebut direkam, maka tugas kami selanjutnya adalah menganalisis apakah diantara 5 elemen masyarakat tersebut terdapat kesenjangan digital atau digital divide berdasar pada hasil wawancara. 'Mas Bro' saat menunjukkan aplikasi di smartphone mil...

Mencapai 1,5 Milyar Rupiah, ACT Kalsel Salurkan Donasi Masyarakat Banjarmasin untuk Palu, Sigi, dan Donggala

Walikota Banjarmasin Pimpin Langsung Pelepasan Truk Kemanusiaan untuk Palu, Sigi, dan Donggala di Balai Kota Banjarmasin   Sore ini Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina resmi melepas bantuan dari masyarakat Banjarmasin melalui ACT (Aksi Cepat Tanggap) wilayah Kalsel bertempat di Balai Kota Banjarmasin. ACT mengirim bantuan sebanyak 3 buah truk, 1 pick up, yang berisi bahan pangan dan pakaian. Selain itu, dikirim pula tim relawan gabungan dari ACT dan Tagana sebanyak 10 relawan. Pengiriman dilakukan lewat jalur darat menuju Balikpapan, lalu segera dikirim ke Palu. Pemkot Banjarmasin juga berencana untuk langsung ke lokasi bencana dan bertemu dengan pemerintah Palu paling lambat pada awal Nopember untuk menyerahkan bantuan agar tepat sasaran dan dapat mengurangi beban saudara disana. Ungkap Ibnu Sina setelah acara pelepasan selesai. “Dalam kurun waktu 4 bulan lebih ini sudah mencapai 1,5 milyar donasi yang kami terima dari warga Banjarmasin dan donator-donatur kami” kata...