Langsung ke konten utama

Penjual Pencok dan Smartphonenya

Beberapa hari belakangan ini saya dan teman-teman kelompok pergi ke beberapa tempat di sekitar kampus untuk mencari responden yang akan diwawancarai sehubungan adanya tugas final test mata kuliah New Media semester 4 kuliah saya ini. Mari saya perkenalkan tujuh orang anggota yaitu Yulia, Ira, Arifah, Lley, Sherly, Winda, dan tentu saya sendiri. Kebetulan pada hari minggu saya dan Winda sedang free, kami berencana untuk mencicil tugas wawancara. Kami diberi tugas untuk mewawancara 5 elemen masyarakat yang berbeda yaitu ibu rumah tangga, pelajar, pedagang asongan, karyawan/pegawai, dan guru/dosen.  Topic wawancara adalah seputar pengetahuan mereka tentang TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) serta media sosial. Setelah wawancara tersebut direkam, maka tugas kami selanjutnya adalah menganalisis apakah diantara 5 elemen masyarakat tersebut terdapat kesenjangan digital atau digital divide berdasar pada hasil wawancara.

'Mas Bro' saat menunjukkan aplikasi di smartphone miliknya
Nah, kali ini saya akan sedikit berbagi cerita saya saat mewawancara seorang pedagang pencok buah yang mangkal di daerah kayutangi 2.
Mas Anton atau lebih senang di panggil Mas Bro ini sangat ramah dan cukup terbuka saat kami wawancarai mengenai TIK dan media sosial. Dari 5 orang yang telah kami wawancara, menurut saya pribadi beliau inilah yang membuat saya cukup terheran-heran awalnya. Jangan salah dengan penampilan dan latarbelakang pekerjaan beliau sebagai pedagang pencok, karena pengetahuan beliau tentang TIK dan media sosial cukup banyak, apalagi terkait penggunaannya.

Saat kami bertanya mengenai apa yang beliau ketahui tentang TIK, jawaban beliau masih cukup mendasar. Menurut beliau dengan adanya kemajuan TIK saat ini membuat proses berkomunikasi lebih mudah dan dengan adanya paket internet lebih murah. “Saya bisa video call sama keluarga yang di Jawa, lebih enak lah daripada yang dulu, ‘kan lebih canggih sekarang”. Yup, saya cukup terheran karena ini baru pertanyaan pertama kami dan jawaban beliau tak seperti yang saya prediksi.
Selanjutnya mengenai gadget yang beliau miliki, berdasar yang beliau perlihatkan pada kami adalah salah satu produk smartphone yang terkenal dan cukup lumayan canggih bagi seorang penjual pencok (stereotip saya, kalo penjual atau pedagang asongan mungkin handphonenya yang biasa-biasa aja bukan yang smartphone. Ok, harus saya ubah, apapun jenis gadget itu adalah hak semua orang untuk beli dan mempunyainya J)

Smartphone yang beliau punya digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga yang jauh, karena dengan adanya smartphone, komunikasi tatap muka dapat dilakukan dengan mudah. Selain itu beliau juga menggunakannya untuk akses sosial media. Akses sosial media yang beliau lakukan selain mencari informasi juga sebagai media hiburan “buka youtube buat liat-liat video-video, buat hiburan”
Lanjut. Mengenai sosial media yang digunakan selain mengkakses video di youtube, beliau menyebutkan beberapa sosial media yang digunakan yaitu whatsapp, line, instagram, facebook, dan bigo live. Whatsapp biasanya beliau gunakan untuk berkomunikasi tatap muka dengan istri dan anak, “Biasanya sehari bisa tiga kali video call-an”, tambah beliau.

Sampai disini, saya sangat senang mendengar pemaparan beliau tentang pengetahuannya mengenai TIK dan sosial media. Namun saya cukup sedih saat beliau mengungkapkan paket kuota internet yang digunakan untuk smartphonenya yaitu terkadang sampai 60 GB dalam waktu sebulan. Saya balik ingat diri sendiri, kadang habis 3 GB dalam seminggu saya sudah cukup merasa bersalah dan boros, apalagi beliau. Tapi jikalau masih ada uang, ya tidak apa-apa (tapi boros siih). Kami sempat tertawa kecil, beliau kemudian menambahkan bahwa hal itu karena beliau sering membuka youtube dan sosial media dimalam hari mingga larut malam, tidak lain untuk mencari hiburan. Ya, sekali lagi itu memang hak beliau.


Pernyataan beliau tentang penggunaan kuota tersebut langsung membuat pikiran saya teringat dengan bagaimana sikap bijak kita dalam penggunaan smartphone dan sosial media? bagaimana literasi kita pada penggunaanya? Melihat fakta tersebut membuat saya juga harus berintropeksi diri dan mencoba melihat pada orang-orang sekitar kita. Kita dapat melakukan upaya minimal jika kita tidak dapat melakukan upaya yang besar, ya paling tidak kita mengingatkan orang terdekat kita terlebih dahulu tentang pentingnya bijak dalam penggunaan smartphone dan media sosial.

Jikalau flashback mengenai materi kuliah umum yang diberikan oleh Pa Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Beliau menyampaikan ada beberapa kiat untuk mengantisipasi penggunaan media sosial agar tetap pada batas aman, yaitu dengan cara literasi teknologi, peran pemerintah dalam membantu mensosialisasikannya pada masyarakat, dan kembali pada kesadaran masyarakat untuk dapat menggunakan media sosial secara bijak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencapai 1,5 Milyar Rupiah, ACT Kalsel Salurkan Donasi Masyarakat Banjarmasin untuk Palu, Sigi, dan Donggala

Walikota Banjarmasin Pimpin Langsung Pelepasan Truk Kemanusiaan untuk Palu, Sigi, dan Donggala di Balai Kota Banjarmasin   Sore ini Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina resmi melepas bantuan dari masyarakat Banjarmasin melalui ACT (Aksi Cepat Tanggap) wilayah Kalsel bertempat di Balai Kota Banjarmasin. ACT mengirim bantuan sebanyak 3 buah truk, 1 pick up, yang berisi bahan pangan dan pakaian. Selain itu, dikirim pula tim relawan gabungan dari ACT dan Tagana sebanyak 10 relawan. Pengiriman dilakukan lewat jalur darat menuju Balikpapan, lalu segera dikirim ke Palu. Pemkot Banjarmasin juga berencana untuk langsung ke lokasi bencana dan bertemu dengan pemerintah Palu paling lambat pada awal Nopember untuk menyerahkan bantuan agar tepat sasaran dan dapat mengurangi beban saudara disana. Ungkap Ibnu Sina setelah acara pelepasan selesai. “Dalam kurun waktu 4 bulan lebih ini sudah mencapai 1,5 milyar donasi yang kami terima dari warga Banjarmasin dan donator-donatur kami” kata...
dokumen pribadi Oleh Bapak Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang Beberapa waktu lalu bapak Nurudin menjadi narasumber dalam kuliah umum di kampus saya yang bertema “Tuhan Baru Masyarakat Cyber”. Berikut penjelasan mengenai dampak dari media sosial oleh beliau. source : pixabay.com a. Nomophobia Seseorang lebih senang ketinggalan dompet daripada smartphone . Tentu kita sering menemui orang-orang yang semacam ini, karena merasa bahwa ia lebih membutuhkan smarphonenya yang memiliki berbagai macam fitur dan akses informasi. Juga sering kita temui orang yang langsung kebingungan dan kelabakan ketika ketinggalan smartphone . b. Alone together Turkle dalam bukunya Alone Together: Why we expect more from technology and less from the other. Sering kita temui, mereka yang duduk bersama-sama dengan kelompok sosialnya secara fisik terlihat menjadi satu, namun acuh dan hampa dengan aktivitas di sekitarnya karena terlalu asyik dengan gadget...